Percayakanlah masa lampaumu pada kerahiman Allah; masa kinimu pada kasihNya dan masa depanmu pada penyelenggaraan Ilahi-Nya. (St. Agutinus)
Kamis, Juli 03, 2008
ORANG MISKIN SELALU ADA PADAMU
Panas terik menyengat kulit tubuh. Saat itu krisis moral, krisis moneter, krisis kepercayaan mulai melanda bangsa Indonesia. Bangsa yang berlimpahkan susu dan madu tiba-tiba menjadi jatuh miskin. Hampir di setiap sudut persimpangan jalan dan lampu lalu lintas tampak pemandangan yang dianggap lumrah. Pengemis menadahkan tangannya. Cara mereka mengemis pun beraneka ragam: pakaian compang camping, menggendong anak balita, kaki dibalut perban, luka yang menjadi borok. Tak jarang anak-anak usia sekolah dasar ikut mengemis.
Di siang hari yang panas terik, kami berdua melakukan perjalanan ke stasi-stasi di pinggiran kota. Melewati beberapa persimpangan jalan dan lampu lalu lintas. Kendaraan ramai, arus lalu lintas padat lancar sepanjang perjalanan. Beberapa kali kami terperangkap lampu merah, sehingga harus menghentikan kendaraan.
Suatu ketika saat kendaraan berhenti, datanglah seorang ibu muda menggendong anak kecil sambil menyodorkan kaleng bekas susu dan mohon belas kasihan. Sejenak saya memperhatikan orang itu dan sesaat kemudian melambaikan tangan, tanda menolak permohonan pengemis. Ibu itu berlalu dengan raut wajah sedih dan pandangan kosong.
Seorang romo di sampingku menegur,”frater, kalau ada pengemis minta uang beri saja, ini di kotak banyak uang recehan.” Saya pun menjawab,”romo, ada dua macam pengemis, pertama sungguh-sungguh tidak punya, dan kedua karena dikoordinir oleh orang tertentu untuk mengemis di jalanan.” Terjadilah dialog di antara kami. Romo tersebut tetap menghendaki agar kami memberikan uang setiap kali berjumpa pengemis di jalan, karena ekonomi sedang carut marut. Sementara saya berpendapat tentang kemiskinan dan kemalasan orang mencari pekerjaan.
Akhirnya romo tersebut berkata,” hidup kita sebagai biarawan dan imam jarang kekurangan, selalu ada orang baik hati yang memperhatikan, nah tidak ada salahnya kita memberikan mereka uang, tokh tidak akan menghabiskan apa yang kita miliki.” Saya diam dan tidak melanjutkan dialog tersebut.
Saya mencoba merenungkan kata-kata romo. Di satu sisi ada benarnya juga. Tidak akan menghabiskan apa yang dimiliki. Minimal cukup untuk hidup layak. Sementara para pengemis? Entah benar-benar miskin atau dikoordinir untuk menjadi miskin (=pengemis) terperangkap oleh lingkaran kemiskinan yang mereka alami. Miskin karena dari dirinya sendiri atau mungkin dibuat oleh orang lain/lingkungan. Miskin karena ketiadaan kemampuan yang dimiliki untuk mendapatkan pekerjaan yang layak.
Kata-kata Tuhan Yesus menyadarkanku yang sedang bergulat dengan kosa kata kemiskinan dan pengemis. “Karena orang-orang miskin selalu ada padamu, dan kamu dapat menolong mereka, bilamana kamu menghendakinya, tetapi Aku tidak akan selalu bersama-sama kamu.” (Mrk 14:7). Kata-kata Tuhan yang sangat menyentak jiwaku. Sampai kapanpun dunia ini berlangsung, orang-orang miskin akan selalu ada dan hadir di hadapan kita. Tidak mudah menghapuskan kemiskinan seperti yang dikampanyekan banyak pihak.
“Orang-orang miskin selalu ada padamu dan kamu dapat menolong mereka.” Itulah firman Tuhan yang hidup, konkrit dan butuh pelaksanaan.
Kita kerap terjebak dalam diskusi, seminar, lokakarya ataupun rapat-rapat yang membicarakan sebab-sebab kemiskinan, cara menanggulanginya, prosedure yang harus dilakukan dan sebagainya. Ada banyak waktu, tenaga dan dana yang dihabiskan untuk membicarakannya. Sementara pada saat pelaksanaan tidak sedahsyat persiapannya.
Seorang imam senior sering didatangi beberapa orang yang meminta bantuan setiap bulannya. Tak jarang di antara mereka sebenarnya masih mampu bekerja. Sang imam dengan murah hati memberikan bantuannya. Imam itu diberitahu agar tidak setiap kali memberikan bantuan secara rutin, karena pernah terjadi ia dibohongi oleh orang yang meminta bantuan dengan alasan tertentu. Namun imam itu tidak mengindahkan masukan tersebut. Ia tetap memberikan bantuan pada orang-orang yang datang. Ia nampak murah hati, mudah berderma, punya perhatian pada orang kecil dan miskin.
Suatu ketika seseorang bertanya kepada imam tersebut, mengapa ia selalu memberikan derma pada orang-orang tersebut padahal sudah tahu di antara mereka ada yang pernah membohonginya. Imam itu menjawab bahwa orang-orang datang butuh bantuan untuk ditolong, kita tidak tahu apakah mereka itu sungguh membutuhkan atau tidak, yang penting ditolong. Adalah lebih berdosa jika orang yang sangat-sangat membutuhkan bantuan ditolak saat datang. Orang yang datang pasti butuh bantuan, mereka tidak akan datang kalau tidak membutuhkan bantuan.
Jawaban yang indah dan apa adanya dari hati yang terdalam. Ia tidak peduli orang yang datang sungguh jujur atau membohonginya minta bantuan. Masih adakah hati seperti itu? Banyak dari kita tidak (belum) memiliki hati seperti itu. Tak jarang kita menaruh curiga terlebih dahulu terhadap orang yang butuh bantuan (=pengemis). Apalagi bila kita pernah dibohongi oleh orang yang datang minta bantuan.
Firman Tuhan Yesus,”orang-orang miskin selalu ada padamu, dan kamu dapat menolong mereka..” tetap bergema hingga saat ini. Adakah jiwa dan hati kita ikut tergugah? Tuhan menantikan jawabannya.