Dalam suatu komunitas kerahiban hidup beberapa rahib yang berusaha mencari kesucian dan kesempurnaan hidup. Hidup dalam aturan, makan minum dan pengajaran yang sama. Yang berbeda adalah karakter pribadi dalam menghayati arti mengejar kesempurnaan dalam kebersamaan. Ada 2 rahib yang berbeda watak kepribadian, bekerja di tempat pembuatan anggur. Yang satu sebut saja Ales seorang yang sabar suka mengalah, dan menerima apa adanya. Lainnya bernama Frans berwatak keras, merasa diri lebih dari yang lain. Rahib Alex sering menjadi bulan-bulanan kemarahan dari temannya. Sedikit saja keliru, ia menjadi tumpahan kemarahan temannya. Setiap malam setelah ibadat malam, Alex datang mengetuk kamar para rahib satu per satu dan berkata “forgive me brother”, sambil membungkukkan badannya. Rahib Alex mendapatkan amarah dan diusir pergi dengan kata-kata yang sinis, kasar dan pedas; setiap kali tiba di kamar Frans. Alex tidak pernah membalas kemarahan itu, dia hanya memberikan sebuah senyuman lalu kembali ke kamarnya. Forgive me brother, membungkukkan badan dan tersenyum diulangi oleh Alex selama bertahaun-tahun.
Suatu ketika betapa terkejutnya rahib Frans melihat rahib Alex temannya, makin tua penuh keriput dan badannya bongkok. Ingin ia merengkuh dan memeluk temannya, namun dalam dirinya masih ada pertentangan batin, dengan segala kekerasan hatinya. Diapun bercermin, melihat dirinya makin tua lemah penuh dengan rambut putih uban.
Forgive me brother, membungkukkan badan dan tersenyum terus diulangi Alex. Sampai akhirnya Alex terserang sakit keras. Ia menghadapi saat-saat terakhir menuju keabadian. Para rahib berkumpul berdoa di sekitar tempat tidur Alex. Doa dipimpin Abbas. Saat para rahib berdoa, Alex tak henti-hentinya mengucapkan 3 kata “ forgive me brother, forgive me brother, forgive me brother”. Entah kekuatan apa, tiba-tiba rahib Frans datang mendekat, memegang tangan rahib Alex. Rahib lainnya sangat terkejut!! Apa yang diperbuat Frans?? Frans, sambil terenyum dan menganggukkan kepala berkata,”forgive me brother, forgive me brother.” Tak lama kemudian Alex menghembuskan nafas terakhirnya sambil tersenyum.
Betapa kecewa, sedih, dan pedih hati rahib Frans melihat temannya rahib Alex meninggal. Namun nasi telah menjadi bubur. Rahib Alex telah meninggal. Apa yang dilakukan rahib Frans selanjutnya...? Untuk menebus rasa bersalah pada temannya rahib Alex, ia berjalan dari pintu ke pintu rahib lainnya dengan berkata “forgive me brother, forgive me brother, forgive me brother.” Lalu ia kembali ke kamar dan mencambukki dirinya dengan tali jubahnya. Setiap malam ia melakukan itu demi pengampunan bagi temannya yang telah meninggal.
Sekilas kalimat yang keluar dari mulut rahib Frans “forgive me brother” tidak ada artinya, karena rahib Alex akhirnya meninggal. Mereka tidak lagi bisa berkomunikasi. Komunikasi telah putus. Pedih, sedih, kecewa dan hati yang galau melanda rahib Frans. Selama hidupnya ternyata ia belum mampu memberikan pengampunan kepada rekannya sesama rahib. Mereka hidup bersama dalam komunitas pertapaan. Yang senantiasa berdoa, makan minum, mendengarkan pengajaran dan Firman Tuhan dan bekerja bersama. Ia sadar belum dapat memberikan pengampunan seperti yang diajarkan “ampunilah kesalahan kami”.
Pengampunan dan cinta yang diterima saat-saat terakhir kehidupan membawa dampak yang besar bagi rahib Alex. Ia mengalami sukacita besar di saat terakhir hidupnya. Satu hal yang didambakannya adalah cinta dan pengampunan.
Betapa indahnya bila saat itu tiba. Saat saling menerima dan mengungkapkan pengampunan satu dengan lainnya. Lepas dari soal siapa benar atau salah, Allah menghargai mereka yang berani terlebih dahulu mengampuni saudaranya. Indah dan mengagumkan pengampunan itu!! Inilah satu cara kita menyelamatkan jiwa-jiwa, agar tidak terjerumus ke dalam kesalahan dan dosa yang lebih besar.
(am)