Minggu, Februari 17, 2008

Indahnya Pengampunan

Dalam suatu komunitas kerahiban hidup beberapa rahib yang berusaha mencari kesucian dan kesempurnaan hidup. Hidup dalam aturan, makan minum dan pengajaran yang sama. Yang berbeda adalah karakter pribadi dalam menghayati arti mengejar kesempurnaan dalam kebersamaan. Ada 2 rahib yang berbeda watak kepribadian, bekerja di tempat pembuatan anggur. Yang satu sebut saja Ales seorang yang sabar suka mengalah, dan menerima apa adanya. Lainnya bernama Frans berwatak keras, merasa diri lebih dari yang lain. Rahib Alex sering menjadi bulan-bulanan kemarahan dari temannya. Sedikit saja keliru, ia menjadi tumpahan kemarahan temannya. Setiap malam setelah ibadat malam, Alex datang mengetuk kamar para rahib satu per satu dan berkata “forgive me brother”, sambil membungkukkan badannya. Rahib Alex mendapatkan amarah dan diusir pergi dengan kata-kata yang sinis, kasar dan pedas; setiap kali tiba di kamar Frans. Alex tidak pernah membalas kemarahan itu, dia hanya memberikan sebuah senyuman lalu kembali ke kamarnya. Forgive me brother, membungkukkan badan dan tersenyum diulangi oleh Alex selama bertahaun-tahun.
Suatu ketika betapa terkejutnya rahib Frans melihat rahib Alex temannya, makin tua penuh keriput dan badannya bongkok. Ingin ia merengkuh dan memeluk temannya, namun dalam dirinya masih ada pertentangan batin, dengan segala kekerasan hatinya. Diapun bercermin, melihat dirinya makin tua lemah penuh dengan rambut putih uban.
Forgive me brother, membungkukkan badan dan tersenyum terus diulangi Alex. Sampai akhirnya Alex terserang sakit keras. Ia menghadapi saat-saat terakhir menuju keabadian. Para rahib berkumpul berdoa di sekitar tempat tidur Alex. Doa dipimpin Abbas. Saat para rahib berdoa, Alex tak henti-hentinya mengucapkan 3 kata “ forgive me brother, forgive me brother, forgive me brother”. Entah kekuatan apa, tiba-tiba rahib Frans datang mendekat, memegang tangan rahib Alex. Rahib lainnya sangat terkejut!! Apa yang diperbuat Frans?? Frans, sambil terenyum dan menganggukkan kepala berkata,”forgive me brother, forgive me brother.” Tak lama kemudian Alex menghembuskan nafas terakhirnya sambil tersenyum.
Betapa kecewa, sedih, dan pedih hati rahib Frans melihat temannya rahib Alex meninggal. Namun nasi telah menjadi bubur. Rahib Alex telah meninggal. Apa yang dilakukan rahib Frans selanjutnya...? Untuk menebus rasa bersalah pada temannya rahib Alex, ia berjalan dari pintu ke pintu rahib lainnya dengan berkata “forgive me brother, forgive me brother, forgive me brother.” Lalu ia kembali ke kamar dan mencambukki dirinya dengan tali jubahnya. Setiap malam ia melakukan itu demi pengampunan bagi temannya yang telah meninggal.

Sekilas kalimat yang keluar dari mulut rahib Frans “forgive me brother” tidak ada artinya, karena rahib Alex akhirnya meninggal. Mereka tidak lagi bisa berkomunikasi. Komunikasi telah putus. Pedih, sedih, kecewa dan hati yang galau melanda rahib Frans. Selama hidupnya ternyata ia belum mampu memberikan pengampunan kepada rekannya sesama rahib. Mereka hidup bersama dalam komunitas pertapaan. Yang senantiasa berdoa, makan minum, mendengarkan pengajaran dan Firman Tuhan dan bekerja bersama. Ia sadar belum dapat memberikan pengampunan seperti yang diajarkan “ampunilah kesalahan kami”.

Pengampunan dan cinta yang diterima saat-saat terakhir kehidupan membawa dampak yang besar bagi rahib Alex. Ia mengalami sukacita besar di saat terakhir hidupnya. Satu hal yang didambakannya adalah cinta dan pengampunan.

Betapa indahnya bila saat itu tiba. Saat saling menerima dan mengungkapkan pengampunan satu dengan lainnya. Lepas dari soal siapa benar atau salah, Allah menghargai mereka yang berani terlebih dahulu mengampuni saudaranya. Indah dan mengagumkan pengampunan itu!! Inilah satu cara kita menyelamatkan jiwa-jiwa, agar tidak terjerumus ke dalam kesalahan dan dosa yang lebih besar.
(am)

Jumat, Februari 15, 2008

MEMBANGUN ETOS KERJA

Manusia adalah homo faber (manusia yang bekerja). Kerja merupakan suatu yang menyangkut harkat hidup manusia. Manusia memanusiawikan dirinya dengan bekerja, karena kerja menyangkut soal hidup dan kehidupan manusia. Karya manusia adalah tindakan langsung dari manusia yang diciptakan menurut citra Allah. Manusia dipanggil supaya bersama-sama melanjutkan karya penciptaan dengan menaklukan bumi beserta segala sesuatu yang terdapat di dalamnya, serta menguasai dunia dalam keadilan dan kesucian. (bdk. Gaudeum et Spes art. 34; Kej 1:28).


Setiap individu adalah penentu bagi hidupnya sendiri. Pihak lain tidak dapat menentukan segala-galanya atas hidup pribadi seseorang. Manusia bebas menentukan arah hidupnya, termasuk memilih pekerjaan yang sesuai dengan ketrampilan, bakat dan minat. Pilihan atas suatu pekerjaan menuntut suatu konsekuensi, bahwa ia bertanggungjawab dan mengusahakan keberhasilan usahanya. Dengan demikian, setiap individu berani mengembangkan dirinya melalui pikiran dan tenaganya, untuk terus berkreasi dan berinovasi atas hal-hal baru guna menunjukkan eksistensi dirinya.

KERJA MANUSIA DALAM KITAB SUCI

Ketika manusia jatuh ke dalam dosa, manusia sudah harus bekerja dengan susah payah. “Dengan berpeluh engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu... “ (Kej. 3:17c-19). Kerja dipandang sebagai suatu kutukan atau hukuman akibat dosa manusia pertama. Suka atau tidak suka, manusia harus bekerja demi kelangsungan hidupnya. Sejak saat itulah manusia berusaha keras untuk memperoleh hidup layak. Manusia berusaha menciptakan berbagai macam peralatan dan sarana untuk mempermudah kerjanya. Hal itu dilakukan manusia secara pribadi maupun kelompok sejak dulu hingga saat ini.


Tuhan Yesus datang untuk menghancurkan segala kuasa dosa. Selama hidup-Nya, Ia tidak berdiam diri. Ia bekerja membantu Yusuf ayahnya, seorang tukang kayu dari Nazaret. Mungkin pekerjaan sebagai tukang kayu dianggap rendah, karena tidak memiliki arti apa-apa dibandingkan dengan pekerjaan lain yang lebih bergengsi. Namun Tuhan Yesus turut mengambil bagian dalam pekerjaan yang dipandang kasar dan rendah oleh kebanyakan orang. Tuhan ambil bagian dalam seluruh hidup manusia. Tuhan bekerja bukan sekedar bekerja untuk mendapat upah, melainkan untuk menunjukkan eksistensi-Nya. Kerja yang semula dianggap sebagai hukuman atas dosa, kini menjadi suatu berkat berlimpah. Karena Tuhan Yesus turut bekerja. Tangan-Nya yang kudus telah menjamah pekerjaan yang kasar menjadi suatu yang mulia.


Rasul Paulus mengingatkan bahwa jika seseorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan (2 Tes 3:10). Bagaimana mungkin orang yang mampu bekerja, tetapi tidak mau bekerja hanya menadahkan tangan meminta makan kepada orang yang bekerja keras? Bukankah itu menjadi beban bagi banyak orang? Orang harus bekerja untuk dapat mempertahankan hidupnya.

MAKNA KERJA MANUSIA

Manusia bekerja untuk dapat bertahan dalam hidup. Bertahan dalam hidup berarti harus memiliki uang. Uang dan itulah yang dikejar manusia. Uang menjadi segala-galanya dalam kerja. Kerja akan semakin giat bilamana fee dan insentif yang diberikan cukup memadai. Namun di sisi lain dituntut pula daya kreasi untuk menemukan hal-hal baru yang lebih bermutu. Kita tidak perlu menutup kenyataan atau malu mengakui, bahwa tanpa fee dan insentif yang memadai segala yang kita kerjakan rasanya hambar. Kerja menjadi kurang bersemangat, tidak bergairah dan loyo. Kerja menjadi ala kadarnya. “Yang penting aku kerja, dapat honor, beres.” Demikian aneka ungkapan yang kerap kita dengar. Pertanyaan bagi kita, hanya seperti itu sajakah makna

kerja kita sebagai manusia?.


Kerja adalah sesuatu yang sangat manusiawi, berciri pribadi dan sosial. Manusia bekerja bukan untuk kepentingannya sendiri, melainkan juga untuk orang-orang yang menjadi tanggung jawabnya. Manusia tidak pernah bekerja sendirian. Ia bekerja bersama dengan orang lain. Manusialah yang bekerja dan kerja merupakan ciri dasar kemanusiaannya sebagai citra dan wakil Allah dalam dunia. Kerja manusia dalam bentuk apapun patut dihormati dan dihargai oleh setiap pihak. Inilah inti dari segala masalah sosial. Dengan bekerja manusia hendak menunjukkan eksistensi (keberadaan) dirinya sebagai manusia. Ia dapat mengekspresikan dirinya lewat pekerjaannya. Sehingga dirinya dapat berkembang menjadi lebih sempurna sebagai ciptaan Allah. Bakat, talenta, kemampuan maupun ketrampilan seluruhnya diupayakan untuk meningkatkan hasil yang berdaya guna bagi semua pihak. Hasil yang gemilang dan memuaskan akan diperolehnya di kemudian hari.


Kerja membutuhkan modal untuk dapat mengembangkan usaha (perusahaan). Modal dan kerja saling membutuhkan - namun bukan lazim dibayangkan bahwa modal mencari tenaga kerja supaya roda ekonomi berjalan. Mesin dan modal hanyalah hasil kerja, pasaran dan manajemen hanyalah sarana untuk mengatur usaha manusia. Kerja secara hakiki dan efektif lebih unggul karena kerja bersifat manusia. Modal tidak lagi berkuasa mencari dan mempekerjakan orang (tenaga) seperlunya melainkan sebaliknya, manusia bekerja dan memakai segala sarana untuk membangun kebersamaan dengan orang lain dan bekerja secara mandiri.

MEMBANGUN ETOS KERJA

Perkembangan suatu perusahaan dalam meningkatkan hasil produksi tidak terlepas dari individu-individu dan kebijakan yang telah disepakati bersama. Setiap individu perlu meningkatkan kualitasnya agar dapat mengembangkan sisi kemanusiaannya, hingga akhirnya dapat meningkatkan hasil produksi. Apa yang diharapkan atau diusahakan untuk dapat membangun etos kerja dari setiap individu?

1. Kerjasama dalam Tim
Setiap individu adalah bagian dari kebersamaan secara keseluruhan. Tim dapat tumbuh dan berkembang menjadi kuat, apabila masing-masing bagian menyadari posisinya. Setiap individu dan bagian hendaknya mengusahakan kerjasama secara efektif dan efisien. Setiap individu atau bagian tidak merasa lebih penting dibandingkan dengan lainnya. Semua pihak sama-sama membutuhkan untuk dapat menunjang kerja. Seperti halnya tubuh manusia, antar anggota tubuh saling membutuhkan, yang satu tidak dapat mengatakan bahwa dia tidak membutuhkan lainnya. (Bdk. Rm 12:4; 1 Kor 12:12-31)

2. Relasi Interpersonal
Relasi antara pimpinan dan pekerja dapat dipertahankan dalam tahap atau situasi tertentu. Namun pada kesempatan lain perlulah diusahakan relasi interpersonal yang dibangun atas dasar kepercayaan. Relasi ini memungkinkan setiap individu memiliki kesempatan untuk mendengarkan dan didengarkan pendapatnya, adanya empati dan simpati atas segala suka dan duka dalam kerja. “Jangan jemu-jemu berbuat baik, selama masih ada kesempatan bagi kita untuk berbuat baik kepada semua orang.” (Bdk. Gal 6:9-10) Relasi interpersonal mengajak setiap individu dan bagian membuka pikiran dan hati untuk berbagi ilmu, pengetahuan, informasi, ketrampilan dan kemampuan.

3. Semangat “LEBIH / MAGIS “ daripada Ala Kadarnya
Setiap individu hendaknya mengenal segala kelebihan maupun kekurangannya. Baik dalam kepribadian, maupun ketrampilan, kemampuannya dalam bekerja. Bekerja tidak sekedar melaksanakan tugas yang harus diselesaikannya, melainkan ada sesuatu yang ingin diraih karena memiliki nilai lebih. Semangat “lebih/magis” mengandaikan bahwa orang mengenal kemampuan dirinya. Ia tidak merasa puas dengan apa yang telah dikerjakannya saat ini. Daya kreasi dan kreativitas dikembangkan untuk menemukan sumber-sumber baru. Perusahaan akan maju bila setiap individu mau berubah dan maju, ataupun sebaliknya.

4. Adanya semangat “Rasa Memiliki”
Semangat “rasa memiliki” hendaknya dikembangkan dalam setiap individu dan bagian. Adanya rasa memiliki mengandaikan tumbuhnya rasa tanggung jawab untuk menjaga citra positif. Siapa lagi yang akan menjaga dan merawat bila bukan individu-individu dalam setiap bagiannya. Pemilik modalkah? Negara? Atau siapa?

5. Kerja untuk semakin menjadi manusia
Kita bekerja bukan sekedar mendapat upah yang layak. Bekerja untuk mewujudkan pribadi / insan yang semakin sempurna sebagai citra Allah. Menjadi lebih manusiawi karena mampu mengembangkan kodrat kemanusiaan. Mengembangkan segala kemampuan yang ada pada diri sendiri, tanpa harus menjadi beban bagi orang lain.


-am-

Selasa, Februari 12, 2008

Where Have You Hidden?

Where have you hidden, Beloved?
Why have You wounded my soul?
I went out to the wilderness calling for You
But You were gone
Oh shepherds keeping your watch in the hills
If by chance you meet with my Love
Tell Him I suffer in my lonely grief
And I soon will die
But I have searched for my Love in the mountains
I have searched among the meadows and the fields
He has poured out a thousand graces in them
So my heart might be healed
Yet my heart is not healed

from The Lover and the Beloved,
with lyrics based on St. John of the Cross
adapted by John Michael Talbot