Manusia adalah homo faber (manusia yang bekerja). Kerja merupakan suatu yang menyangkut harkat hidup manusia. Manusia memanusiawikan dirinya dengan bekerja, karena kerja menyangkut soal hidup dan kehidupan manusia. Karya manusia adalah tindakan langsung dari manusia yang diciptakan menurut citra Allah. Manusia dipanggil supaya bersama-sama melanjutkan karya penciptaan dengan menaklukan bumi beserta segala sesuatu yang terdapat di dalamnya, serta menguasai dunia dalam keadilan dan kesucian. (bdk. Gaudeum et Spes art. 34; Kej 1:28).
Setiap individu adalah penentu bagi hidupnya sendiri. Pihak lain tidak dapat menentukan segala-galanya atas hidup pribadi seseorang. Manusia bebas menentukan arah hidupnya, termasuk memilih pekerjaan yang sesuai dengan ketrampilan, bakat dan minat. Pilihan atas suatu pekerjaan menuntut suatu konsekuensi, bahwa ia bertanggungjawab dan mengusahakan keberhasilan usahanya. Dengan demikian, setiap individu berani mengembangkan dirinya melalui pikiran dan tenaganya, untuk terus berkreasi dan berinovasi atas hal-hal baru guna menunjukkan eksistensi dirinya.
KERJA MANUSIA DALAM KITAB SUCI
Ketika manusia jatuh ke dalam dosa, manusia sudah harus bekerja dengan susah payah. “Dengan berpeluh engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu... “ (Kej. 3:17c-19). Kerja dipandang sebagai suatu kutukan atau hukuman akibat dosa manusia pertama. Suka atau tidak suka, manusia harus bekerja demi kelangsungan hidupnya. Sejak saat itulah manusia berusaha keras untuk memperoleh hidup layak. Manusia berusaha menciptakan berbagai macam peralatan dan sarana untuk mempermudah kerjanya. Hal itu dilakukan manusia secara pribadi maupun kelompok sejak dulu hingga saat ini.
Tuhan Yesus datang untuk menghancurkan segala kuasa dosa. Selama hidup-Nya, Ia tidak berdiam diri. Ia bekerja membantu Yusuf ayahnya, seorang tukang kayu dari Nazaret. Mungkin pekerjaan sebagai tukang kayu dianggap rendah, karena tidak memiliki arti apa-apa dibandingkan dengan pekerjaan lain yang lebih bergengsi. Namun Tuhan Yesus turut mengambil bagian dalam pekerjaan yang dipandang kasar dan rendah oleh kebanyakan orang. Tuhan ambil bagian dalam seluruh hidup manusia. Tuhan bekerja bukan sekedar bekerja untuk mendapat upah, melainkan untuk menunjukkan eksistensi-Nya. Kerja yang semula dianggap sebagai hukuman atas dosa, kini menjadi suatu berkat berlimpah. Karena Tuhan Yesus turut bekerja. Tangan-Nya yang kudus telah menjamah pekerjaan yang kasar menjadi suatu yang mulia.
Rasul Paulus mengingatkan bahwa jika seseorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan (2 Tes 3:10). Bagaimana mungkin orang yang mampu bekerja, tetapi tidak mau bekerja hanya menadahkan tangan meminta makan kepada orang yang bekerja keras? Bukankah itu menjadi beban bagi banyak orang? Orang harus bekerja untuk dapat mempertahankan hidupnya.
MAKNA KERJA MANUSIA
Manusia bekerja untuk dapat bertahan dalam hidup. Bertahan dalam hidup berarti harus memiliki uang. Uang dan itulah yang dikejar manusia. Uang menjadi segala-galanya dalam kerja. Kerja akan semakin giat bilamana fee dan insentif yang diberikan cukup memadai. Namun di sisi lain dituntut pula daya kreasi untuk menemukan hal-hal baru yang lebih bermutu. Kita tidak perlu menutup kenyataan atau malu mengakui, bahwa tanpa fee dan insentif yang memadai segala yang kita kerjakan rasanya hambar. Kerja menjadi kurang bersemangat, tidak bergairah dan loyo. Kerja menjadi ala kadarnya. “Yang penting aku kerja, dapat honor, beres.” Demikian aneka ungkapan yang kerap kita dengar. Pertanyaan bagi kita, hanya seperti itu sajakah makna
kerja kita sebagai manusia?.
Kerja adalah sesuatu yang sangat manusiawi, berciri pribadi dan sosial. Manusia bekerja bukan untuk kepentingannya sendiri, melainkan juga untuk orang-orang yang menjadi tanggung jawabnya. Manusia tidak pernah bekerja sendirian. Ia bekerja bersama dengan orang lain. Manusialah yang bekerja dan kerja merupakan ciri dasar kemanusiaannya sebagai citra dan wakil Allah dalam dunia. Kerja manusia dalam bentuk apapun patut dihormati dan dihargai oleh setiap pihak. Inilah inti dari segala masalah sosial. Dengan bekerja manusia hendak menunjukkan eksistensi (keberadaan) dirinya sebagai manusia. Ia dapat mengekspresikan dirinya lewat pekerjaannya. Sehingga dirinya dapat berkembang menjadi lebih sempurna sebagai ciptaan Allah. Bakat, talenta, kemampuan maupun ketrampilan seluruhnya diupayakan untuk meningkatkan hasil yang berdaya guna bagi semua pihak. Hasil yang gemilang dan memuaskan akan diperolehnya di kemudian hari.
Kerja membutuhkan modal untuk dapat mengembangkan usaha (perusahaan). Modal dan kerja saling membutuhkan - namun bukan lazim dibayangkan bahwa modal mencari tenaga kerja supaya roda ekonomi berjalan. Mesin dan modal hanyalah hasil kerja, pasaran dan manajemen hanyalah sarana untuk mengatur usaha manusia. Kerja secara hakiki dan efektif lebih unggul karena kerja bersifat manusia. Modal tidak lagi berkuasa mencari dan mempekerjakan orang (tenaga) seperlunya melainkan sebaliknya, manusia bekerja dan memakai segala sarana untuk membangun kebersamaan dengan orang lain dan bekerja secara mandiri.
MEMBANGUN ETOS KERJA
Perkembangan suatu perusahaan dalam meningkatkan hasil produksi tidak terlepas dari individu-individu dan kebijakan yang telah disepakati bersama. Setiap individu perlu meningkatkan kualitasnya agar dapat mengembangkan sisi kemanusiaannya, hingga akhirnya dapat meningkatkan hasil produksi. Apa yang diharapkan atau diusahakan untuk dapat membangun etos kerja dari setiap individu?
1. Kerjasama dalam Tim
Setiap individu adalah bagian dari kebersamaan secara keseluruhan. Tim dapat tumbuh dan berkembang menjadi kuat, apabila masing-masing bagian menyadari posisinya. Setiap individu dan bagian hendaknya mengusahakan kerjasama secara efektif dan efisien. Setiap individu atau bagian tidak merasa lebih penting dibandingkan dengan lainnya. Semua pihak sama-sama membutuhkan untuk dapat menunjang kerja. Seperti halnya tubuh manusia, antar anggota tubuh saling membutuhkan, yang satu tidak dapat mengatakan bahwa dia tidak membutuhkan lainnya. (Bdk. Rm 12:4; 1 Kor 12:12-31)
2. Relasi Interpersonal
Relasi antara pimpinan dan pekerja dapat dipertahankan dalam tahap atau situasi tertentu. Namun pada kesempatan lain perlulah diusahakan relasi interpersonal yang dibangun atas dasar kepercayaan. Relasi ini memungkinkan setiap individu memiliki kesempatan untuk mendengarkan dan didengarkan pendapatnya, adanya empati dan simpati atas segala suka dan duka dalam kerja. “Jangan jemu-jemu berbuat baik, selama masih ada kesempatan bagi kita untuk berbuat baik kepada semua orang.” (Bdk. Gal 6:9-10) Relasi interpersonal mengajak setiap individu dan bagian membuka pikiran dan hati untuk berbagi ilmu, pengetahuan, informasi, ketrampilan dan kemampuan.
3. Semangat “LEBIH / MAGIS “ daripada Ala Kadarnya
Setiap individu hendaknya mengenal segala kelebihan maupun kekurangannya. Baik dalam kepribadian, maupun ketrampilan, kemampuannya dalam bekerja. Bekerja tidak sekedar melaksanakan tugas yang harus diselesaikannya, melainkan ada sesuatu yang ingin diraih karena memiliki nilai lebih. Semangat “lebih/magis” mengandaikan bahwa orang mengenal kemampuan dirinya. Ia tidak merasa puas dengan apa yang telah dikerjakannya saat ini. Daya kreasi dan kreativitas dikembangkan untuk menemukan sumber-sumber baru. Perusahaan akan maju bila setiap individu mau berubah dan maju, ataupun sebaliknya.
4. Adanya semangat “Rasa Memiliki”
Semangat “rasa memiliki” hendaknya dikembangkan dalam setiap individu dan bagian. Adanya rasa memiliki mengandaikan tumbuhnya rasa tanggung jawab untuk menjaga citra positif. Siapa lagi yang akan menjaga dan merawat bila bukan individu-individu dalam setiap bagiannya. Pemilik modalkah? Negara? Atau siapa?
5. Kerja untuk semakin menjadi manusia
Kita bekerja bukan sekedar mendapat upah yang layak. Bekerja untuk mewujudkan pribadi / insan yang semakin sempurna sebagai citra Allah. Menjadi lebih manusiawi karena mampu mengembangkan kodrat kemanusiaan. Mengembangkan segala kemampuan yang ada pada diri sendiri, tanpa harus menjadi beban bagi orang lain.
-am-
Jumat, Februari 15, 2008
MEMBANGUN ETOS KERJA
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar