Fenomena setan dan segala makhluk halus sedang berkembang dewasa ini. Kita lihat di televisi dengan aneka cerita. Benarkah masyakarat kita sudah dikuasai fenomena per-setan-an? Sehingga tidak ada suguhan cerita yang lebih humanis dan Ilahi di media komunikasi?
Di tengah masyarakat pun dikenal sejumlah orang yang dikenal memiliki kemampuan supranatural atau adikodrati. Mereka dianggap mampu mengusir makhluk halus atau roh-roh jahat. Banyak orang lari kepadanya minta bantuan. Orang Katolik pun menghadapi persoalan yang sama. Tidak sedikit yang datang kepadanya. Bahkan orang Katolik pun dengan bangganya berani mengatakan “aku (dia) punya karunia mengusir setan/eksorsisme!” Pertanda apakah ini!?
Bagaimana pandangan Gereja tentang pengusiran setan? Kitab Hukum Kanonik 1172 berbunyi demikian:
(1) Tiada seorangpun dapat dengan legitim melakukan eksorsisme terhadap orang yang kerasukan, kecuali jika telah memperoleh izin khusus dan tegas dari Ordinaris wilayah.
(2) Izin itu oleh Ordinaris wilayah hendaknya hanya diberikan kepada imam yang saleh, ahli, arif serta tak tercela hidupnya.
Apa yang dapat kita mengerti dan pahami dari pandangan Gereja?
(1) Tanpa izin Ordinaris wilayah (Uskup) setempat pengusiran setan dianggap tidak sah.
(2) Pengusiran setan hanya dapat dilakukan oleh imam bukan awam.
(3) Tidak semua imam memiliki wewenang mengusir setan. Hanya imam yang kredibel dalam hidup beriman, saleh, moral baik, bijaksana dan hidupnya tidak tercela sajalah yang mendapat izin dari Uskup untuk mengusir setan.
Injil Mat 17:14-20 mengajak kita untuk merenungkan soal penyakit dan pengusiran setan yang dilakukan Tuhan Yesus. Orang yang berpenyakit aneh belum tentu kerasukan setan. Yesus melakukan keduanya: menyembuhkan dan mengusir setan.
Seorang datang kepada Yesus, mohon kesembuhan anaknya. Karena para murid tidak mampu menyembuhkan dan mengusir setan yang ada pada anak tersebut. Ketika tidak ada lagi pribadi yang menyembuhkan, orang itu datang kepada Yesus. Ia membutuhkan kuasa Ilahi Yesus. Yesus datang pada saat yang tepat bagi orang yang membutuhkan pertolongan. Yesus mengusir setan dan menyembuhkan anak itu.
Pertanyaan para murid cukup menggelitik,"Mengapa kami tidak dapat mengusir setan itu?" "Karena kamu kurang percaya!” Itulah jawaban Tuhan Yesus. Kurang percaya atau kurang beriman menjadi kunci dari tidak terlaksananya karya Allah dalam diri seseorang. Yesus menunjukkan betapa pentingnya sikap percaya. Percaya pada kuasa Ilahi. Bukan percaya yang melulu mengandalkan diri pribadi.
Senin, Agustus 04, 2008
Sikap percaya bertumbuh saat orang makin memiliki relasi mendalam dengan Tritunggal Mahakudus.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar