KASIH ALLAH MENYEMBUHKAN JIWA
Seorang anak datang kepada ibunya dan memberikan secarik kertas. Sementara Ibu membaca satu persatu tulisan anak, si anak lari ke ruang makan mencari makan.
Ongkos membantu ibu 1 bulan:
1. Membantu ibu pergi ke pasar 4x Rp. 20.000,00
2. Menjaga adik tiap hari Rp. 100.000,00
3. Membuang sampah 1 minggu 2x Rp. 15.000,00
4. Membereskan tempat tidur Rp. 15.000,00
5. Menyiram bunga tiap sore Rp. 10.000,00
6. Menyapu halaman Rp. 25.000,00
7. Mencuci piring Rp. 15.000,00
Total Rp. 200.000,00
Ibu tersenyum setelah membaca tagihan anaknya. Kemudian sejenak ibu merenungkan tulisan anaknya. Ia memanggil si anak. Anak dengan segera berlari menuju ibu dengan mata berbinar-binar penuh sukacita dengan harapan ibu segera memberikan uangnya...
Namun apa yang terjadi? Ibu memberikannya secarik kertas tersebut. Anak itu terheran-heran, untuk apa kertas dikembalikan?? Di belakang kertas itu ada tulisan tangan ibu.
1. Ongkos mengandungmu 9 bulan GRATIS
2. Ongkos menyusuimu GRATIS
3. Ongkos jaga malam menjagamu GRATIS
4. Ongkos air mata yang meleleh untukmu GRATIS
5. Ongkos mengganti popok, pakaian, memandikanmu GRATIS
6. Ongkos memberi makan minum GRATIS
7. Ongkos membawamu ke dokter saat demam GRATIS
Total seluruh NILAI KASIHKU untukMU GRATIS
Si anak tertegun sejenak membaca tulisan tangan ibu. Tiba-tiba ia menangis sesenggukkan. Lekas-lekas ia merangkul, mendekap dan memeluk erat ibunya. Sambil menangis ia berkata,”Maaf Mam, aku sayang mama.” (I Love You Mom). Menangislah ibu dan anak dalam kehangatan dekapan yang intim mesra penuh kasih.
Tak lama kemudian si anak berhenti menangis. Sambil berlelehkan air mata, ia mengambil pensilnya dan menuliskan di kertas tagihan.. HARGANYA telah LUNAS DIBAYAR.
Manusia kerap berpikir “transaksional”, segala sesuatu diukur dengan “kompensasi”, “penuh perhitungan”. Berapa yang sudah aku beri.. maka berapa yang akan kau beri... berapa yang akan kuterima..
Kisah tadi menunjukkan bagaimana relasi antara anak dan ibu. Anak kerap belajar dari apa yang dilihat, didengar dan dilakukan orang tua. Keluarga ada sekolah pertama dan mendasar bagi pertumbuhan anak.
√ Jika anak dibesarkan dengan celaan,
Ia belajar memaki
√ Jika anak dibesarkan dengan permusuhan,
Ia belajar berkelahi
√ Jika anak dibesarkan dengan cemoohan
Ia belajar rendah diri
√ Jika anak dibesarkan dengan penghinaan,
Ia belajar menyesali diri
√ Jika anak dibesarkan dengan toleransi,
Ia belajar menahan diri,
√ Jika anak hidup dalam saling pengertian,
Ia belajar menjadi sabar
√ Jika anak hidup dalam dorongan,
Ia belajar percaya diri
√ Jika anak hidup dengan pujian,
Ia belajar menghargai
√ Jika anak hidup dengan kejujuran
Ia belajar menjadi adil
√ Jika anak hidup dengan rasa aman,
Ia belajar memiliki kepercayaan
√ Jika anak hidup dalam dukungan,
Ia belajar menyukai diri sendiri
√ Jika anak hidup dalam kasih dan persahabatan,
Ia belajar menemukan cinta dalam dunia
Kita pernah menjadi seorang anak dalam keluarga. Sikap kita sedikit banyak adalah hasil/buah/cerminan keluarga dan lingkungan yang mendidik dalam kehidupan. Satu hal yang tidak boleh dilewatkan adalah belajar mengampuni dan mencintai.
Mengapa bangsa dan rakyat ini menjadi carut marut? Karena kita dididik melihat orang lain sebagai “yang lain” bukan bagian dari “aku”. Orang lain adalah “musuh, saingan, pribadi yang menakutkan dll”. Tak jarang ada yang bangga disebut sebagai “musuh, pribadi yang menakutkan, pecundang”. Kita kurang melihat orang lain sebagai saudara. Akibatnya apabila ada perselisihan, maka orang sulit mengampuni. Sekali musuh tetap musuh!!
Ibu dalam kisah tadi telah mengajarkan kepada kita arti mengampuni dan mencintai. Ibu tidak tersinggung dan tidak marah dengan kertas tagihan anaknya. Ia mengajarkan sesuatu yang positif dalam hidup anaknya. Anak sadar akan kasih yang luar biasa dari ibu. Ibu mengajarkan dan mempraktekkan nilai-nilai kasih yang tanpa balas dan tanpa batas. Nilai pengampunan yang tulus.
Belajar dari Rasul Petrus. Petrus seorang pribadi yang keras, mudah meledak-ledak, spontan, yang berjanji akan menyerahkan nyawa demi Sang Guru ternyata malah menyangkalnya. Pribadi yang unik, khas dari antara kedua belas rasul lainnya, justru dipakai Yesus menjadi kepala Gereja/komunitas para rasul. Ia hidup, sekaligus menghidupi komunitas para rasul. Ia memiliki pengalaman yang luar biasa dari Sang Guru. Pengalaman yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya (lih Yoh 21:15-19). Ia boleh mengalami cinta, belaskasih dan pengampunan Sang Guru. Yesus Sang Guru tidak pernah menghitung-hitung kesalahan rasul Petrus. Pertanyaan Yesus sudah cukup membuat Petrus sadar akan kekeliruan dan kesalahannya. “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih daripada mereka ini?” Tiga kali pertanyaan diajukan dengan taraf kasih yang berbeda. Mulai dari kasih yang sifatnya insani diangkat sampai kasih yang universal dan Ilahi. Sebuah pertanyaan yang diajukan untuk melihat cinta dan kesetiaan Petrus pada Sang Guru. Sekaligus tanda pengampunan dan belaskasih Allah yang total kepadanya. Betapa dalam dan penuh makna pertanyaan Yesus bagi Petrus. Petrus hanya mampu menjawab 2 kali dengan lantang. “Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Selebihnya ia hanya bisa sedih dan berkata,” Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Ia menyerahkan segala perkaran dan isi hatinya pada Yesus. Cinta dan kesetiaan membutuhkan ungkapan nyata, bukan sekedar ungkapan verbal belaka.
Petrus sedih ingat akan kekeliruan dan kesalahan dirinya. Tentu saja ia ingat akan pertanyaannya kepada Yesus,”Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?” Ternyata pertanyaan itu sekarang berlaku bagi dirinya. Cinta Yesus lebih besar daripada sekedar mengingatkan Petrus akan kesalahannya. Yesus Sang Guru tidak tidak mengajak Petus melihat masa lalu, melainkan melihat masa depan. Pengampunan Yesus membuahkan cintakasih dan kesetiaan dalam diri Petrus. Jiwa Petrus terselamatkan oleh karya cintakasih belaskasih dan pengampunan Yesus. Pengampunan Allah yang tidak terbatas, tidak menghitung-hitung kesalahan, yang senantiasa mengajak manusia menatap masa depan. Betapa indahnya satu pengampunan yang tulus.
Pengampunan menjadi awal/pintu dari cinta kasih yang berkobar-kobar kepada Allah dan sesama. Orang yang dapat mengampuni adalah orang yang mengalami cintakasih sejati, mengalami Allah yang hidup dalam dirinya. Allah yang mengubah hidupnya dari dalam dirinya. Pengampunan bukan sekedar memaafkan. Sebab orang bisa berkata “maaf, maaf, maaf”, tetapi terus menerus mengulangi kesalahan yang sama dan mengungkit-ungkit kesalahan/kekeliruan di masa lalu. Mengampuni jauh lebih dalam dari sekedar memaafkan.
Mengampuni berarti:
☺ orang berani menerima realitas yang terjadi atas dirinya,
☺ tidak mengungkit-ungkit / mengingat-ingat kesalahan di masa lalu
☺ melihat dalam terang/kacamata Ilahi segala yang baik dari peristiwa
☺ berdoa mohon rahmat Allah agar jiwa / batin dimampukan untuk mengampuni.
Jiwa manusia diangkat pada tataran Ilahi menjadi sebuah jiwa/batin yang makin rendah hatin dan sederhana. Jiwa dibebaskan dari rasa taku, cemas, kecewa, putusasa, sedih dan pedih dsb. “Jiwa yang sederhana dan lurus tidak melihat kejahatan dalam apapun, sebab kenyataannya kejahatan berada dalam hati yang kotor dan tidak dalam hal-hal lain,” demikian tulis Teresia Kecil lebih lanjut. Setiap orang membutuhkan pengampunan dan cinta dalam hidupnya.
Pengampunan Allah diberikan cuma-cuma kepada semua orang berdosa yang bertobat, namun tetap ada syaratnya juga, yaitu sampai sejauh mana si calon penerima itu bersedia mengampuni sesamanya. Dengan kata lain, seseorang dapat kehilangan pengampunan Allah dengan tetap menyimpan dendam dan tidak bersedia mengampuni orang lain. (Bdk Mat 18:23-35)
Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.” (Lih Mat 6:14-15)
Apakah Allah pernah memperhitungkan berapa banyak yang Dia berbuat bagi manusia? Dia menciptakan , memberikan segalanya bagi manusia, tanpa mengadakan perhitungan manusia. Dia memberikan segalanya karena Dia mencintai manusia. Cinta Allah membebaskan, menyembuhkan, menyehatkan, menyempurnakan hidup manusia. Cinta Allah tidak diukur dengan transaksional. Dia beri.. Dia bebas. Dia lepaskan semuanya untuk manusia.
Medyanto
Sabtu, September 13, 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar