Jumat, September 12, 2008

PAHITNYA MADU

Madu identik dengan rasa manis di bibir dan lidah. Tiap orang ingin menikmati madu yang membawa kesegaran. Apalagi jika sari madu itu berasal dari olahan yang berkwalitas. Jarang sekali orang membeli madu yang pahit. Madu yang manis, berkwalitas, ber-merk itulah yang dicari orang.

Rasa madu yang menyegarkan kerap dihubungkan dengan bulan madu dalam perkawinan. Atau bisa juga dikaitkan dengan hal-hal rohani. Bulan madu bagi kaum biarawan/biarawati adalah setelah kaul kekal. Bagi para imam saat itu adalah saat setelah tahbisan imamatnya. Paling tidak selama tahun-tahun pertama sesudahnya, mereka merasakan dan menikmati indahnya hidup panggilan yang telah dirintis sejak lama. Kaul kekal atau tahbisan bukanlah puncak segalanya, namun itu awal dari segalanya untuk semakin memperdalam hidup bathin dengan Dia yang memanggil.

Seorang imam senior pernah mengatakan bahwa tahun-tahun pertama hidup imamat sangat menentukan perjalanan imamat selanjutnya. Tahun pertama, imam baru masih menikmati keindahan hidup imamat, merasakan madu-madu Ilahi yang tercurah lewat rahmat sakramen imamat. Awal yang baik akan berakhir dengan baik pula.

Saya yakin setiap imam baru merasakan saat-saat indah menerima rahmat yang tercurah atas dirinya. Rahmat sakramen imamat pada hari tahbisannya. Pengalaman indah ini akan dibawa dalam perjalanan hidupnya. Mengalami madu Ilahi & madu rohani, akhirnya membagikannya kepada setiap jemaat yang dilayaninya. Saya pun merasakan hal tersebut.

Namun tak selamanya tiap orang mengalami madu yang manis dan berkwalitas. Ada kalanya perlu mencicipi rasa pahit agar tahan uji dan makin berkwalitas. Pengalaman itulah yang tidak akan saya lupakan.

Suatu senja setelah perayaan Ekaristi, seorang ibu dan puterinya datang kepadaku. Ibu mengatakan bahwa puterinya akan kembali ke sebuah kota untuk kuliah dan juga tidak lagi ke gereja ini. Saya dengan tenang dan polos katakan pada mereka, “selamat jalan dan berjuang di kota yang baru, selamat belajar, jangan lupa rajin doa dan misa.” Ibu itu terkejut atas ucapan saya. Ibu itu segera melanjutkan kata-katanya,”maaf romo, anak saya ingin pindah ke gereja lain tidak lagi di gereja katolik, tolong romo.... bantu saya supaya dia tetap di gereja katolik.”

Kini saya yang tersentak bagaikan tersengat listrik. Seorang imam muda belum genap 4 bulan menikmati madu Ilahi imamat, menghadapi tantangan yang tidak kecil. Saya tidak pernah membayangkan atau bermimpi bahwa suatu kelak ada umat datang dan jujur menyatakan akan pindah ke gereja lain. Senja itu bukan mimpi, bukan khayalan... namun sebuah kejujuran dari hati seorang anak.

Lantas saya bertanya pada anak ibu tersebut apa yang mendorong dia mengambil jalan ini? Anak itu menjawab dengan polos, lugu dan ceria,” romo, saya telah menemukan Kristus, mengalami kasih Kristus, menemukan firman Allah yang hidup, puji-pujian yang penuh sukacita dan riang gembira, kotbahnya menarik....semuanya tidak saya temukan di gereja Katolik... saya hanya temukan di sebuah gereja X (= disamarkan).. saya sudah mantap tapi mama melarang ke sana...”

Senja makin larut. Berulangkali saya menyakinkan anak itu tentang indah dan manisnya gereja Katolik. Anak itu tetap bersikukuh pada pendiriannya. Keputusan telah dipikirkan selama setahun lebih, katanya. Sinar mentari pergi dari peredarannya. Demikian pula perginya seorang pribadi.

Gagal dan terasa pahit. Saya teringat dengan teman-teman di masa lampau, teman-teman masa kecil yang pada akhirnya memilih jalan sendiri untuk memilih kepercayaan yang berbeda dengan apa yang telah diyakininya sejak kecil. Saat itu saya mengatakan bahwa itu pilihanmu, bagus telah menemukan yang dicari. Kini? Tidak mudah mengeluarkan kalimat itu lagi.

Kini satu orang telah pergi menemukan Kristus di tempat yang dianggapnya menyejukkan. Bagiku dia seorang pribadi yang jujur. Dia tahu segala konsekuensi atas pilihannya. Sementara berapa banyak yang pergi dan tidak mengungkapkannya? Mereka pergi dan mungkin takkan pernah kembali. Haruskah kusesali??

Pengalaman awal imamat yang patut menjadi pelajaran berharga bagiku. Banyaknya jemaat yang pergi kerap tidak terdeteksi. Kita kerap menganggap pribadi A atau B masih jemaat Katolik, ternyata.. sudah pindah ke lain hati. Hatinya tidak ada lagi di lingkungan Katolik.

Sebuah pelajaran yang sangat berharga untuk masa sekarang dan akan datang. Kita harus berani membaharui diri, meningkatkan pelayanan, menumbuhkan semangat baru dalam tata peribadatan, menjadikan firman Allah lebih hidup dan bergema di dalam keluarga dan lingkungan.

Inilah saatnya mengumpulkan madu-madu Ilahi yang lezat dan membagikannya pada setiap jiwa, agar semakin mengenal Kristus yang tersalib dan telah bangkit. Para Karmelit dipanggil untuk membagikan madu-madu rohani. Madu yang berkwalitas dan menyegarkan tiap orang yang berjumpa dengannya.

Para Karmelit bagaikan lebah-lebah Tuhan yang mengumpulkan kemanisan madu rohani di gua-gua mereka yang sempit..(Jacques de Vitry, Uskup Arce, 1216-1228)

medyanto


Tidak ada komentar: